Arung Palakka, Sang Jagoan Batavia

Arung Palakka

JAUH sebelum menaklukan Sultan Hasanuddin di Selat Buton, Arung Palakka adalah seorang jagoan tanpa tanding yang ditakuti di seantero Batavia. Lelaki gagah berambut panjang dan matanya menyala-nyala ini memiliki nama yang menggetarkan seluruh jagoan dan pendekar di Batavia. Keperkasaan seakan dititahkan untuk selalu bersemayam bersamanya. Pria Bugis dengan badik yang sanggup memburai usus ini sudah malang melintang di Batavia sejak tahun 1660, ketika ia bersama pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman Makassar.

Batavia di abad ke-17 adalah arena di mana kekerasan seakan dilegalisir demi pencapaian tujuan. Di masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan adalah udara yang menjadi napas bagi kelangsungan sistem kolonial. Kekerasan adalah satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan pada bangsa yang harus dihardik dulu agar taat dan siap menjadi sekrup kecil dari pasang naik kolonialisme Eropa. Kekerasan itu seakan meneguhkan apa yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya jahat dan laksana srigala yang saling memangsa sesamanya. Pada titik inilah Arung Palakka menjadi seorang perkasa bagi sesamanya.

Aku menemukan nama Arung Palakka saat membaca sebuah arsip di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Barusan, aku juga membaca sebuah novel yang berisikan data sejarah tentang Batavia di masa silam dengan sejarah kelam yang membuat bulu kuduk bergidik. Selama beberapa hari ini, sejarah Batavia seakan berpusar terus di benakku. Berbagai referensi itu menyimpan sekelumit kisah tentang pria yang patungnya dipahat dan berdiri gagah di tengah Kota Watampone.

Arung Palakka adalah potret keterasingan dan menyimpan magma semangat yang menggebu-gebu untuk penaklukan. Ia terasing dari bangsanya, bangsa Bugis yang kebebasannya terpasung. Namun, ia bebas sebebas merpati yang melesat dan meninggalkan jejak di Batavia. Ia sang penakluk yang terasing dari bangsanya. Malang melintang di kota sebesar Batavia, keperkasaannya kian membuncah tatkala ia membangun persekutuan yang menakutkan bersama dua tokoh terasing lainnya yaitu pria Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker. Ketiganya membangun persekutuan rahasia dan memegang kendali atas VOC pada masanya, termasuk monopoli perdagangan emas dan hasil bumi.

Ketiga tokoh yang teralienasi ini adalah horor bagi jagoan di masa itu. Speelman adalah petinggi VOC yang jauh dari pergaulan VOC. Dia tersisih dari pergaulan karena terbukti terlibat dalam sebuah perdagangan gelap saat masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665. Arung Palakka adalah pangeran Bugis yang hidup terjajah dan dalam tawanan Makassar. Ia memberontak dan bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke. Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon. Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. Rumah dan tanah luas di daerah Marunda dekat Cilincing diberikan VOC kepadanya.

Baik Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker sama-sama berangkat dari hal yang sama yaitu keterasingan. Ketiganya punya sejarah penaklukan yang membuat nama mereka menjadi legenda. Speelman menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin bertekuk lutut di Makassar dalam sebuah perlawanan paling dahsyat dalam sejarah peperangan yang pernah dialami VOC. Bersama Arung Palakka, Speelman menghancurkan Benteng Sombaopu yang menjadi momok bagi VOC serta rintangan (barikade) untuk menguasai Indonesia timur, khususnya jalur rempah- rempah Maluku, pada bulan November 1667.

Arung Palakka sangat populer sebab berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi diametral: di satu sisi hendak membebaskan Bugis, namun di sisi lain justru menaklukan daerah lain di Nusantara. Kisahnya berawal pada tahun 1662, dibuat perjanjian antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian di sebut Perjanjian Painan itu bertujuan untuk monopoli dagang di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayang, rakyat Minang mengamuk pada tahun 1666 dan menewaskan perwakilan VOC di Padang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke situ dalam ekspedisi yang dinamakan Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bugis, ia berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.

Sedang Kapiten Jonker punya reputasi menangkap Trunojoyo dan diserahkan pada pegawai keturunan VOC keturunan Skotlandia, Jacob Couper. Tiga tokoh yaitu Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker telah menaklukan Nusantara di Barat, Tengah, dan Timur. Mereka punya andil besar untuk mengantarkan VOC pada puncak kejayaannya pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker. Tidak heran kalau ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuatan VOC pada masa itu. Maetsueyker tidak berani menolak permintaan ketiganya sebab mereka punya bala tentara yang besar. Di luar ketiganya, ia hanya mengandalkan serdadu bayaran multibangsa dengan loyalitas yang rendah. Akibat kekuasaan yang besar serta penguasaan monopoli emas ini, Speelman berhasil menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1681.

Sayangnya, kisah menakjubkan dari tiga jagoan Batavia ini harus berakhir dalam waktu yang tidak lama. Musuh Speelman yaitu perwira asal Perancis bernama Isaac de’lOrnay de Saint Martin langsung bergerak. Komandan perang yang memenangkan peperangan di Cochin, Colombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat ini, berhasil mengungkap semua korupsi dan keculasan Speelman hingga akhirnya Speelman disingkirkan dari posisi Gubernur Jenderal. Isaac juga berhasil mempengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapiten Jonker. Wilayah kekuasaan pria Ambon ini di Pejonkeran Marunda dikepung, kemudian diserang. Kapiten Jonker tewas terbunuh dalam penyerbuan itu. Kepalanya dipancung dan dipertontonkan. Pengikutnya dibunuh dan keluarganya diasingkan ke Colombo dan Afrika.

Sedang Arung Palakka disingkirkan secara halus dengan cara memasung langkahnya untuk tetap menjadi Raja Bone, kemudian kekuasaannya dikontrol dari Benteng Rotterdam. Pria Bugis ini dijauhkan dari hiruk-pikuk politik di Batavia sehingga kehilangan semua kuasa dan pengaruh besarnya di jantung kekuasaan VOC. Ia seakan diasingkan agar tidak lagi membangun networking atau jaringan dengan bala tentaranya di Batavia. Hingga akhirnya Arung Palakka kesunyian dan menjemput ajalnya di bumi Sulawesi. Namun, namanya telah terpatri sebagai jagoan tanpa lawan di tanah Batavia.

Oleh : Yusran Darmawan

~ oleh Anjaz di/pada April 5, 2008.

26 Tanggapan to “Arung Palakka, Sang Jagoan Batavia”

  1. Sebuah tulisan yang sangat menyentuh….

  2. Sayang ya…. kehebatan itu ditangan spelman, coba blio berada dipihak Dipenegro, atau Imam Bonjol tentu proses kemerdekaan akan semakin cepat. Tetapi karena ditangan spelman maka proses percepatan penjajahan di Nusantara cepat terjadi karena bantuan sang jagon bugis.

    Gua inget, kehebatan sang fir-aun, atau dajjal. Mereka semua juga hebat dalam legenda sampai Tuhan pun dilawan. Tapi apa artinya semua kehebatan cerita, jika dicibir dalam sebagian hati manusioa. apa artinya hebat jika memerangi bangsa sendiri seperti di Sumatra, jawa, ga usahlah di Gowa karena spesifik masalahnya.

    Apa artinya kehebatan fioraun jika untuk melawan Tuhan

    Apa artinya kehebatan daeng serang jika bekerja sama dengan Kaum kafir untuk menumpas sesama muslim di sumatra dan jawa

  3. setuju pak Aco

    Apalah artinya kehebatan dan keberanian jika hanya untuk “memangsa dan menjajah bangsa sendiri.

    Apakah layak dijadikan pahlawan…

    Kakekku adalah salah seorang korban pembantaian Westerling.
    Westerling dengan mudahnya menjajah bangsaku karena dibantu oleh si Latenri tatta ini.

  4. Sultan Ma Westerling sih bagi saya sama aja !!!
    Sama-sama Pernah menjajah tanah leluhurku….

    Okelah Arung Palakka Dicap Penghianat Bagi Bangsa ini. Tapi bagi Kami Ia adalah pahlawan yang membebaskan Tanah Kami dari Penjajahan Sultan….
    Apakah iya, Sultan menganggap Kami sebangsa ketika ia menjajah negeri kami ???

  5. okemi cappo

  6. ya…ya… sejarah selalu ditulis oleh pihak pemenang….. kasusnya Aru Palakka adalah karena dulu belum ada indonesia yg ada kerajaan gowa, bone , mataram dll semuanya masih berdiri sendiri sehingga tidak bisa dianggap pengkhianat karena tidak ada yang dikhiananti…
    kejadian sultan dan aru palakka tahun berapa sih…..???
    Negara indonesia berdiri tahun berapa ……????

    apakah seseorang bisa disebut penghianat bagi bangsa yg belum ada….???

    yg jelas pahlawan bagi indonesia adalah Soedirman, Soekarno, Soetomo dan soe…soe yg lain….

    Sultan hasanuddin adalah pahlawan bagi Kerajaan Gowa.
    Aru Palakka adalah pahlawan bagi Kerajaan Bone
    Imam Bonjol adalah pahlawan daerah bonjol
    Diponegoro adalah pahlawan bagi pengikutnya di jawa sana.. karena dia berjuang untuk kepentingan dia dan pengikutnya.
    Gajahmada adalah pahlawan bagi Majapahit…

    Westerling adalah pahlawan bagi belanda

  7. Siapapun apakah sultan Hasanuddin, Arung Palakka,, namun yang penting bahwa diantara mereka itu ada keinginan untuk tidak ditindas oleh siapapun. Dan mereka mewujudkan dalam bentuk perang dalam menegaakan kemerdekaan, yang dalam bahasa bugis dikenal “lebih baik mati disiri’na dari pada hidup tapi mate siri’. dan falsafah bugis makassar ini seharusnya harus dipatrikan di dalam hati seluruh anak bangsa Indonesia dari seluruh sisi kehidupannya, baik itu sisi ekonomi, sosial, budaya ilmu pengetahuan dan teknologi. yang artinya, anak-anak bangsa harus berjuang sampai mati untuk menegakkan cita-cita bangsa apapun resikonya.

    Bustang

  8. arung palakka adalah pahlawan orang bugis, maka harus menjaga siri’ karena dalam sejarah dianggap penghianat. perlawanan terhadap kerajaan gowa adalah bukti bahwa arung palakka memegang prinsip bugis. beliau adalah pejuang bugis, terhebat sepanjang masa, berhasil menaklukkan kerajaan penjajah di tanah sulawesi.

  9. arung palakkaam koe magai deaga jago

  10. kita liat keadaan skr darah darah bone saja yang selalu memerintah baik kabupaten provinsi bahkan negara darah sultan hasnuddin mana? realistis dong ini artinya buktinya aru palakka pemimpin pembebas sejati sampai keturunan2nya.okeh buka mata boss

  11. liat maki keturunan gowa sekarang maaf nah waktu kos dulu banyak celana bajuku hilang nalukkaki bro astagfirullah….keturunan penjajah.padahal katanya satu bangsa ya nda boleh dong ambil punya orang.buka mata robert andi kulle

  12. KALIAN SEMUA NDA NGERTI APA APA KULIT KULITNYA DOANG MAU PENGHIANAT MAU APA YANG PENTING DIA BEBASKAN KAMI DARI KAUM PALUKKA SAMPAI SEKARANG MASIH LUKKA WASPADALAH KEJAHATAN TERJADI KARENA NIAT DAN KESEMPATAN

  13. Assalamu Alaikum, saya mohon maaf kerena ikut juga menyumbang masukan. Saudaraku sesama darah bacaki sejarah asal mulanya makassar serta bugis dan jangan kita mengulang sejarah yang lalu yang mengakibatkan kita terpecah dan akhirnya dijajah oleh belanda, bukankah yang menghembuskan perbedaan itu adalah kaum penjajah yakni belanda karena dia yakin tanpa taktik adu domba ini sulawesi selatan yang waktu itu di motori oleh Makassar dan Bugis tidak akan dapat mereka kuasai. cukuplah yang menjadi korban adalah Arung Palakka.

  14. saya orang bugis cess,asli dari soppeng tp tetap bangga sama latenri tatta’!!,walaupun disebut penghianat..?,terserah merekalah,yg jelas dia bukan pengkhianat bangsa!!,krn dulu memang belum ada yg namanya indonesia,jd nggak usah sok²deh bilang pengkhianat!! klo blum ngrti sejarah,klo ada yg ngga setuju ngga disini t4nya,mnding ketemu lngsng aja skalian tau jg gmn rasanya di tonjok ama orng bugis?!!.saya darah bugis,bukan jawa,bukan jg makassar!!,jd masing²lah bangga ama pahlawan kalian,ngga usah bilang pengkhianat bgt!!.

    adee’boegiezt

  15. Arung Palakka Pahlawan Kemanuasiaan!!!
    Membebaskan Tanah Bugis Dari Penjajahan Sultan Hasanuddin.

  16. Bagi Saya, Pahlawan Sejati adalah Ksatria yang yang tidak pernah mengingkari Janjinya, Berjuang dengan hati untuk Rakyatnya…. Aru Palakka Adalah adalah pejuang Bagi rakyatnya… Sultan Hasanuddin, Imam Bonjol, Diponegoro Juga adalah pahlawan bagi Rakyatnya… Arung Palakka hanya kurang beruntung karena “diadili” di Jaman Indonesia Merdeka yang tidak pernah di kenalnya… Juga dianggap penghianat oleh Bangsa Indonesia … yang olehnya Kata “Indonesia” belum terdaftar di PBB… Yang dia perjuangkan hanyalah Pembebasan Rakyatnya dari Penjajahan… dari penindasan oleh penjajah yang pada zamannya tidak pernah di tolong oleh Negara yang namanya “Indonesia”. Pernah Aru Palakka berkata walaupun bekerja sama dengan Setan asalkan dapat membebaskan rakyatnya dari penjajahan. Dan ternyata “setan” itu adalah Compani VOC

  17. aru palakka men!!!!
    aru palakka gitu loch…
    ngapamo mauna dibilang,ka bukanji kau jd pahlawanna
    (SANTEMI TAHUN 2009 mi,MODEREN mi bozz)
    jgn mi tlalu dsembah2 pahlawannya,
    gappaka jd penyemba berhala ngasengi tu bone a

    “anak bone terlalu primitif deh”
    modern dikit dunk!!!

  18. TABE BOS’Kami atas nama keluarga besar kerajaan BONE,bagi kami ARUNG PALAKKA LATENRI TATTA PETTA MALAMPE GEMME’E seorang pembebas orang BUGIS,jd kenapami Maraaaaq?Tabe’tho Bone KOE.

  19. TABE BOS’BONE MAU LEWAT,pasti emosiKO,by:Andi Hendra Petta LoLo Sompu LoLona Petta Malampe Gemme’e ri tanah BONE.

  20. Tabe maloppo, Pada dasarnya kita sebagai anak bangsa akan merasa siapapun yang telah mencoba merusak atau melakukan kecurangan pada bangsa kita akan marah bahkan benci pada orang tersebut.

    Kalo akibat Pt. Malampee Gemmena pernah membumihanguskan Kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa, Sumatera dan Gowa lalu ia dibenci oleh mereka yang berada di daerah itu, adalah sangat wajar, namun jangan karena itu lalu Pt. Malampee Gemmena dicap sebagai penghianat. Seorang dikatakan Penghianat bila orang tersebut adalah bagian dari kerajaan itu. Tetapi disini Pt. Malampee Gemmena bukan orang atau bagian dari kerajaan manapun, ia hanya seorang bugis yang berasal dari kerajaan Bone yang saat itu sedang dijajah oleh kerajaan Gowa.
    Bila karena alasan Pt. Malampee Gemmena melakukan kerjasama dg VOC dalam menaklukkan beberapa kerajaan di nusantara sehingga beliau dikatakan penghianat maka Sultan Hasanuddin pun juga perlu dicap penghianat karena telah menjajah dan bahkan menyiksa masyarakat Kerajaan Bone.

    Tapi Sudahlah, jadikan itu sebagai bagian dari sejarah kita untuk menjadi lebih baik ke depan.

    Sy senang dpat informasi dari tulisan ini karena menjadi jelas apa yang dikerjakan oleh Pt. Malampee Gemmena ketika pemberontakannya kepada Gowa karena merasa sakit melihat 10.000 orang bugis disiksa dan dipekerjapaksakan membangun benteng di gowa mulai dari bangsawan sampai rakyat jelata, tetapi kalah dan melarikan diri ke kerajaan buton dan atas saran raja buton untuk meminta bantuan kepada VOC. Oleh VOC akhirnya diajak ke Batavia bersama pasukannya. Disana disebutkan diberikan suatu tempat oleh VOC untuk ditinggali.Inilah mungkin yg dimaksud dalam tulisan ini daerah sekitar Kali Angke.

    Dari sini pula ketahuan bahwa sebelum pulang ke sulawesi, Pt. Malampee Gemmena juga sempat membantu VOC melakukan penyerangan ke beberapa kerajaan. di Jawa dan Sumatera dan memenangkannya.

    Dari tulisan ini pula ketahuan bahwa beliau ternyata tidak melupakan janjinya untuk tidak memotong rambutnya sebelum kembali membebaskan Bone.

    Beliau pulang ke Sulawesi memang untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan kerajaan gowa dan memenangkan pertempuran itu serta menjadikan Kerajaan Bone sebagai penguasa bagi kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi dan sekitarnya.

    Hanya satu klebihannya bahwa pada saat ia menguasai seluruh kerajaan di Sulawesi beliau tidak membuat kerajaan2 yang dikuasainya merasa tersiksa, bahkan beliau melakukan perkawinan antar bangsawan kerajaan sehingga menjadikan seluruh kerajaan menjadi satu keluarga besar.

    Inilah yang menjadikan kita saat ini saling punya hubungan dan menjadikan kita tidak lagi punya dendam antara satu dengan yang lainnya. Kita adalah satu untuk mencapai hari yang lebih baik ke depan, aamiin.

    A. Hasbi Nur

  21. [...] (Sumber: http://tanahbone.wordpress.com/2008/04/05/arung-palakka-sang-jagoan-batavia/) [...]

  22. yang bilang arung palakka penghianat itu adalah orang2 yang yang tidak suka akan kejayaan/kehebatan arung palakka,kalau mengatakan arung palakka penghianat berarti orang bone juga penghianat.kalau berani jangan ngomong di interner ngomong langsung di hadapan orang bone,EWAKO TO BONE, AJA MUELO RI PAKASIRISI.SIRI NA ARUNG PALAKKA SIRI NA TO BONE…..

    ARDHY BHONE….

  23. KATANYA MODERN, TAPI KOK MASIH PAKE’ BAHASA MAKASSAR SIH,SEKARANG YANG PRIMITIF SIAPA?,BONE ATAU MAKASSAR,MAKANYA KALAU MAU BILANGIN ORANG NGACA DULU DONK,JANGAN ASAL NYELONONG AJA,GA’ PUNYA MALU LHO….

  24. Nilai dan semangat Arung Palakka tetap hidup sepanjang masa. Sebagai Suku Bugis harus kita renungkan, seandainya bukan beliau, harkat dan martabat Suku Bugis akan pupus dan mendapat gelar penghinaan sebagai BUDAK.
    Suku Bugis bisa exis dan disegani karena termotivasi oleh keberanian dan keteguhan serta strategi yang telah ditanamkan dan diwariskan oleh sang figur Arung Palakka.
    Bersyukurlah kita sebagai Suku Bugis.

    • saya Bugis Sidrap, dalam sejarah kerajaan sidenreng itu pernah terjalin hubungan yang baik dengan kerajaan bone, ada seorang raja sidenreng yang bernama La So’ni karaeng massepe, beliaulah yg menemani arung palakka sampai ke jawa dan kemudian karaeng massepe dan petta malampee gemmena bersama orang belanda berperang di pariaman (sumatera) dan di allakan. setelah itu pulanglah ke negeri bugis dan di kumpulkannya semua orang bugis yang tercerai berai dan dikumpulkan di jumpandang. setelah itu berperanglah orang bugis dengan makassar di bantu oleh orang belanda. dalam peperangan yg begitu dahsyat menewaskan panglima perang bone yakni Bettae. Bettae meninggal setelah menewaskan 107 orang musuh. arung palakka tidak mau menguburkan bettae klw tidak ada penggantinya maka di panggillah semua sanak famili bettae. sda 15 hari lamanya bettae dalam duni (peti mati) namun tidak ada yang menyamai keberanian dan kegagahan bettae. pada saat itu muncullah La So’ni untuk meminta di kuburkannya bettae ats dasar dia mampu melebihi keberanian bettae. maka petta malampee gemme’na pun menyuruh orang untuk menguburkan bettae.
      setelah itu perngpun berkecamuk pada hari itu karaeng massepe sudah ada 274 orang makassar dan wajo dibunuhnya. keesokan harinya, smpai tengah hari karaeng massepe sudah membunuh 79 orang barulah bertemu dengan karaeng gojang yang bernama karaeng mammu.seharian bertikam antara keduanya tidak ada yg kena senjata. maka berkatalah karaeng mammu: baiklah dahulu berhentilah kita berdua ini dan karaeng massepe pun mengiyakan hal tsb. karaeng mammu pun melapor kepada raja gowa : ampun tuanku, sungguh2 rebahlah bendera kerajaan gowa karena ada orang sy lawan bertikam tombak dari pagi smpai terbenam matahari sekian lamanya itu tidak ada kami kena padanya. maka raja gowa berkata : kalau begitu hampirlah ajalnya gowa. kemudian peperangan kembali berkecamuk dan akhirnya karaeng mammu berhasil ditangkap dan gowa pun dapat dikalahkan.rusaklah somba opu pada tahun 1060 H atau 1662 M. singkat cerita karaeng massepe meninggal dunia karena di fitnah telah berselingkuh dengan permaisuri raja bone yang bernama I SARAMPA. sehingga atas perintah raja bone janggo pance memenggal kepala La So’ni. padahal itu hanya isu negatif yang dilemparkan oleh pemangku adat bone yang sangat cemburu atas keberhasilan La So’ni memenangkan peperangan melawan kerajaan Gowa dan memperoleh hadiah dari raja bone sebilah keris pusaka yang bernama Lamba Sidenreng serta mendapat gelar Manu kate’na Sidenreng (ayam jantannya sidenreng). namun ada yang aneh pada saat kepala La So’ni berada di atas kappara gellang (baki/talang tembaga), kepala tersebut selalu memutar membelakangi raja bone, itu terjadi berulangkali setiap kepala itu di perhadapkan kepada raja bone. raja bone pun takjub bercampur heran dan bertanya kepada janggo pance ada apa gerangan? apakah ada pesan dari pamanku La So’ni? janggo pance pun mengaku bahwa tatkala hamba mengayunkan golok hendak menebas lehernya, karaeng massepe berpesan :
      palettukengngi jolok arungnge ri bone makkedae La So’ni aling-alingna sidenreng, tessoro-e lao ri limpo ri tengnga padang. engkanaga to lebba pauwi makkedae cappuni saung kanna-e, ribattajengngi ewangeng-nge, ri roppo toni wala-wala’e, lebbo toni manu kate’e. nae tenna engngerrangniga arung pone monrona caribo-ibo ri padang rukka turungeng masamo-e, salo-salo tenna jongkari, lappa-lappa tenna liweng. La So’ni mi karaeng massepe betta massolla-solai resoi alena mangaru ritengngana padang cukkae ? ( artinya : sampaikan dulu kepada raja bone baru kau ambil kepalaku bahwa La So’ni adalah laki-laki garangnya sidenreng, yang berpantang mundur di medan perang. sudah datangkah seseorang membawa berita bahwa pertempuran sudah berakhir, alat perangpun sudah digudangkan, pos pangkalan sudah tdak perlu dijaga, para pejuangpun sudah berguguran. tapi apakah raja bone sama sekali tidak mengingat tatkala dia sudah megap-megap tak berdaya ditengah-tengah kepungan marabahaya peperangan dahsyat, parit-parit tidak mampu diseberanginya, tanah datar pun tidak mampu dilampaui.La So’ni-mi karaeng massepe sang pemberani tampil dalam peperangan mengamuk di tengah medan laga yang berkecamuk.

  25. Semangat perlawanan La Tatta disebabkan oleh:
    ketika ia tahu bahwa ayahnya (LaPottobunne / Petta matinroe ri alluddangnge) mati di tumbuk di pannampu Makassar tanpa pengadilan.
    Beliau pernah menyaksikan bahkan mengalami perlakuan intimidasi dan diskriminasi punggawa-punggawa Kerajaan Gowa terhadap orang bugis bone (palakka).
    dua mas’alah inilah yang menyebabkan beliau ‘masiri’ terhadap diri dan keluarganya. kemudian ‘messenyawa’ melihat saudara sesamanya orang bugis.sehingga lahir dendam untuk melawan walaupun sesungguhnya bathin baliau berada pada dilema yang berat karena beliau sendiri berhutang jasa pada Karaeng Pattingaloang,kemudian beliau menikahi istri tercintanya Imangkawani dg Talele adik sepupu Sultan Hasanuddin atas restu Sultan Hasanuddin sendiri(silariang).Perlawanan tersebut di dukung oleh orang Bone tetapi,pada awalnya tidak di dukung oleh Raja Bone La Maddaremmeng karena LaTatta sendiri memang bukan Pangeran Bone.dukungan terbesar berasal dari Raja Soppeng Riaja dan Raja Soppeng Rilau.
    Setelah Beliau sukses,barulah di daulat atas kesepakatan adat (tau ega) sebagai Mangkau ri Bone dengan gelar Latenri Tatta dg serang Andi Patunru petta malampe’e gemme’na Sultan Saadduddin.
    anda boleh membaca tulisan Pelras tapi jangan mau di propokasi oleh tulisan tersebut karena tulisan tersebut tidak semuanya benar.Silahkan baca Tulisan yang berjudul “La Tatta Dg Serang diantara gegap gempitanya perang,darah dan cinta”.dulu pernah di muat harian fajar th 1990 an.

Tinggalkan Balasan